Jumat, 09 Maret 2012

Askep Otitis Media


Askep Otitis Media

Askep Otitis Media
Askep Otitis Media
OLEH :
WINARNO,SPd, S Kep. Ns
Anatomi Telinga
Dibagi dlm 3 bag : telinga luar, t.tengah. Dan t.dalam
Telinga Luar
Tdd aurikula dn meatus akustikus eksternus (MAE) / liang telinga luar
MAE terletak antara aurikula & membrana timpani, seluruhnya dilapisi kulit dg rambut, kelj.sebasea,kelj.apokrin(seruminosa)
Dipisahkan dg t.tengah oleh membrana timpani
Telinga tengah
Sebuah rongga
Dinding lateralnya m.timpani, dinding medialnya permukaan luar t.dalam
Dibtk 3 buah tl.kecil  malleus, inkus, stapes
Rongga ini berhub.dg nasofaring mll tuba eustachii
Telinga dalam/labirin
Tdd sistem saluran yg tdk beraturan (labirin membranosa) yang dibatasi oleh tulang (labirin tulang)
Labirin tulang dibagi vestibulum, koklea, & kanalis semisirkularis
L.tulang berisi perilimfe
L. membranosa berisikan endolimfe

Askep Otitis Media

Otitis Media Akuta
Adalah infeksi akut telinga tengah
Penyebab utama adl masuknya bakteri patogen kedlm telinga tengah yg normalnya steril
Paling sering terjadi bila ada disfungsi tuba eustachius spt ISPA, sinusitis, hipertropi adenoid, reaksi alergi spt Rinitis alergika
Bakteri penyebab: Streptococcus Pnemoniae, Hemophylus influensa, Moraxella catarrhalis
Stadium Pd otitis media
Stadium Kataralis
Stadium Supurasi
Stadium Perforata
Stadium Resolusi
Stadium Kataralis
Keradangan yg mengenai mukosa hidung dan orofaring akibat adanya Ispa diteruskan pd tuba eustachii dan cavum timpani.
Akibatnya mukosa tuba eustachii mengalami oedem dan oedem ini akan menyempitkan lumen tuba eustachiii tsb. Dan akan mengakibatkan terganggungnya fungsi tuba untuk ventlasi dan drainase. Ini akan menyebabkan berkurangnya suplay O2 ke dlm cavum timpani, tekanan udara dlm kavum timpani berkurang(hipotensi)disebut “Vacum”

Keadaan Vacum mengakibatkan timbulnya perubahan pada mukosa cavum timpani yaitu :
Meningkatnya permeabilitas tabung2 darah dan limfe
Meningkatnya permeabilitas dinding2 sel
Terjadinya proliferasi sel2 kelenjar sub mukosa
Hal ini mengakibatkan terjadinya perembesan cairan kedalam cavum timpani (transudasi)Di sebut “ Hydrops ex vacuo”
Gejala klinis
Anamnesa
Timbulnya gangguan yang dirasakan pada telinga. Gangguan ini akibat adanya “Vacuum” dan Hydrops ex vacuo” berupa:
Telinga dirasakan penuh, seperti kemasukan air
Pendengaran terganggu
Nyeri pada telinga/otalgia
Tinitus/grebeg-grebeg
Pemeriksaan otoskopis : didapatkan gambaran membran timpani sbb:
Membran timpani menjadi hiperemis
Posisi membran timpani berubah menjadi retraksi(tertarik ke medial)dg tanda –tanda:
*Membran timpani tampak lebih cekung
*Processus brovis lebih menonjol
*Manubrium malei lebih horizontal danlebih pendek
*Reflek cahaya hilang atau berubah

Askep Otitis Media

Stadium supurasi(Bombans)
Perubahan 2 yg mengenai mukosa cavum timpaniakibat adanya Vacuum pd stadium kataralis, menyebabkan menurunnya pertahanan mukosa setempat (lokal).
Kuman2 yg datangnya dr hidung dan nasofaring besar kemungkinannya untuk mampu mengadakan penetrasi kedalam jar. Mukosa cavum timpani, pus dg cepat terbentuk, shg tekanan dlm cavum timpani berubah mjd lebih tinggi (hipertensi)
Gejala Klinis
Anamnesa: penderita dewasa biasanya datang dg keluhan otalgi hebat. Penderita bayi atau anak-anakmjd rewel dan gelisah, Penderita mengalami febris tinggi
Pemeriksaan Otoskopis :
*Meatus eksternus tidak didapatkan sekret
* Membran timpani sangat hiperemis, tampak cembung dan lateral, kadang tampak adanya pulsasi
Stadium Perforata
Tekanan yang tinggi pd cavum timpaniakibat kumpulan mukosa, akhirnya menimbulkan luban perforata pd mukosa cavum timpani.
Mukopus kemudian mengalir
Kearah meatus eksternus shg keadaan ini akan menurunkan tekanan didlm cavum timpani.
Gejala Klinis
Anamnesa : keluhan yg dirasakan pd stadium bombas kualitasnya sudah jauh berkurang, akibatnya tekanan didlm cavum timpani telah jauh berkurang, otalgia berkurang, adanya otore, pendengaran berkurang.
Pemeriksaan otoskopis:
* Meatus eksternus bersih dr sekret, membran timpani tdk hiperemis, ada lubang perforasipd pars tensa.
Web Of Caution
Penatalaksanaan
Pemberian antibiotika
Bila keluar cairan : otik antibiotika
Miringotomi(Timpanotomi): dibuat insisi mell membran timpani u/ mengurangi tekanan dan mengalirkan cairan serosa / purulen dr telinga tengah
Otitis media Serosa
Adalah keradangan non bakterial mukosa kavum tympani yang ditandai dengan terkumpulnya cairan serous / mukus
Etiologi :
Gangguan fungsi Tuba Eustachii akibat:
Radang kronis : hidung, nasopharing, pharing
Pembesaran adenoid, tonsi
Tumor Nasopharing / celah langit-langit
Lanjutan..
Cairan ini akibat tekanan negatif dlm telinga tengah yg disebabkan oleh obstruksi tuba eustachii
Biasa ditemukan pada anak-anak: krn pada anak/bayi tuba eustachii relatif lebih besar, lurus, pendek, dan posisi lebih horizontal, maka susu dpt masuk kedlm cavum timpani, bila bayi menyusu posisi berbaring, atau pd bayi yg sedang muntah
Lanjutan..
Pada orang dewasa efusi telinga tengah sering terlihat pada pasien setelah menjalani radioterapi dan barotrauma (penyelam) dan pda pasien d disfungsi tuba eustachii akibat infeksi atau alergi saluran nafas atas
Barotrauma terjadi bila terjadi perubahan tekanan mendadak dlm telinga tengah akibat perubahan tekan barometrik, seperti pd penyelam, saat pesawat udara turun
Manifestasi klinik
Kehilangan pendengaran
Rasa penuh dlm telinga
Suara letup atau berderik
Membran timpani tampak kusam pd pemeriksaan otoskopi, reflek cahaya tida ada
Terlihat gelembung udara dlm telnga tengah
Patofisiologi
Penatalaksanaan
Tidak perlu ditangani secara medis kecuali bila terjadi infeksi, simtomatis
Bila kehilangan pendengaran yg berhubungan dengan efusi telinga tengah maka bisa dilakukan miringotomi
Kortikosteroid dosis rendah dpt mengurangi tuba odema eustachii pada kasus barotrauma.
Antibiotika
Otitis media kronika
OMP kronika adl keradangan atau infeksi kronik yg mengenai mukosa dan struktur tulang didalam kavum tympani
Etiologi :
OMP akut atauOMP serosa
Kuman : Pseudomonas, Stafilokokus, Proteus, E. Coli
Faktor yg mempengaruhi tjd OMP Kronik
Rinogen : Infeksi saluran nafas bagian atas yg berulang yg menjalar melalui tuba eutachii
Eksogen : Kebersihan MAE yg buruk, kuman masuk mell lubang perforasi ke dlm kavum tympani. Mis. Mandi disungai, korek telinga
Endogen : Keadaan umum yg buruk. Mis malnutrisi, Kp, alergi
Gabaran patologi
Perubahan pd membran tympani
Perforasi sentral, perforsi pd pars tensa berbentuk sentrak bulat, atau total
Perforasi marginaltjd mada margo timpani
Perforasi atik ,perforasi pd pars flaksida
Lanjutan..
2. Perubahan pd mukosa
Hipertropi : mukosa kavum tympani hanya mengalami pembesaran
Degenerasi: Mukosa kavum tympani mengalami degenerasi dan berubah mjd jar granulasi atau polip
Metaplasi : mukosa tympanum mengalami perubahan
3. Perubahan pd tulang:struktur tulang dalam kavum tympani mengalami destruksi dan nekrosis
Patofisiologi
Lanjutan..
Pemeriksaan
Anamnesis
Keluhan utama dapat berupa :
Gangguan pendengaran/pekak.
Bila ada keluhan gangguan pendengaran, perlu ditanyakan :
Apakah keluhan tsb. pada satu telinga atau kedua telinga, timbul tiba-tiba atau bertambah secara bertahap dan sudah berapa lamanya.
Apakah ada riwayat trauma kepala, telinga tertampar, trauma akustik atau pemekaian obat ototoksik sebelumnya.
Apakah sebelumnya pernah menderita penyakit infeksi virus seperti parotitis, influensa berat dan meningitis.
Apakah gangguan pendengaran ini diderita sejak bayi , atau pada
tempat yang bising atau pada tenpat yang tenang.
Suara berdenging/berdengung (tinitus)
Keluhan telinga berbunyi dapat berupa suara berdengung atau berdenging yang dirasakan di kepala atau di telinga, pada satu sisi atau kedua telinga.
Apakah tinitus ini menyertai gangguan pendengaran.
Rasa pusing yang berputar (vertigo).
Dapat sebagai keluhan gangguan keseimbangan dan rasa ingin jatuh.
Apakah keluhan ini timbul pada posisi kepala tertentu dan berkurang bila pasien berbaring dan timbul lagi bila bangun dnegan gerakan cepat.
Apakah keluhan vertigo ini disertai mual, muntah, rasa penuh di telinga dan telinga berdenging yang mungkin kelainannya terdapat di labirin atau disertai keluhan neurologis seperti disentri, gangguan penglihatan yang mungkin letak kelainannya di sentral. Kadang-kadang keluhan vertigo akan timbul bila ada kekakuan pergerakan otot-oto leher. Penyakit DM, hipertensi, arteriosklerosis, penyakit jantung, anemia, kanker, sifilis, dapat menimbulkan keluhan vertigo dan tinitus.
Rasa nyeri di dalam telinga (Otalgia)
Apakah pada telinga kiri/kanan dan sudah berapa lama.
Nyeri alihan ke telinga dapat berasal dari rasa nyeri gigi, sendi mulut, tonsil, atau tulang servikal karena telinga di sarafi oleh saraf sensoris yang berasal dari organ-organ tersebut
Keluar cairan dari telinga (otore)
Apakah sekret keluar dari satu atau kedua telinga, disertai rasa sakit atau tidak dan sudah berapa lama.
Sekret yang sedikit biasanya berasal dari infeksi telinga luar dan sekret yang banyak dan bersifat mukoid umumnya berasal dari teklinga tengah. Bila berbau busuk menandakan adanya kolesteatom. Bila bercampur darah harus dicurigai adanya infeksi akut yang berat atau tumor. Bila cairan yang keluar seperti air jernih harus waspada adanya cairan liquor serebrospinal.
Terapi OMSK
adalah pembedahan, yaitu mastoidektomi. Jadi, bila terdapat OMSK tipe maligna maka terapi yang tepat ialah dengan melakukan mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti.
Terapi konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan.
Lanjutan..
Bila terdapat abses subperiosteal retroaurikuler, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi (sederhana atau radikal
Asuhan Keperawatan
Pengkajian Fokus
Riwayat kesehatan meliputi penggambaran lengkap msl telinga : infeksi, otalgia, otorea, kehilangan pendengaran
Penyebab masalah, penanganan sebelumnya, obat yg sdh diminum
Pemeriksaan fisik : eritema, odema, otorea, lesi dan bau cairan yg keluar
Lanjutan pengkajian
Telinga eksterna dilihat apakah ada cairan yang keluar dan bila ada harus diterangkan. Palpasi pada telinga luar menimbulkan nyeri pada otitis eksterna dan media
Pengkajian dari saluran luar dan gedang telinga (membran timpani). Gendang telinga sangat penting dalam pengkajian telinga, karena merupakan jendela untuk melihat proses penyakit pada telinga tengah
Diagnosa Keperawatan Pre Operasi
Gangguan berkomunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran.
Perubahan persepsi/sensoris berhubungan dnegan obstruksi, infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran.
Dx. 1
Tujuan : Gangguan komunikasi berkurang / hilang.
Kriteria hasil :
1.Klien akan memakai alat bantu dengar (jika sesuai).
2.Menerima pesan melalui metoda pilihan (misal : komunikasi tulisan, bahasa lambang, berbicara dengan jelas pada telinga yang baik.
Intervensi
Dapatkan apa metode komunikasi yang dinginkan dan catat pada rencana perawatan metode yang digunakan oleh staf dan klien, seperti :Tulisan,Berbicara,Bahasa isyarat.
Kaji kemampuan untuk menerima pesan secara verbal.
1. Jika ia dapat mendegar pada satu telinga, berbicara dengan perlahan dan dengan jelas langsung ke telinga yang baik (hal ini lebih baik daripada berbicara dengan keras).
2. Tempatkan klien dengan telinga yang baik berhadapan dengan pintu.
3. Dekati klien dari sisi telinga yang baik.
Lanutan intervensi
Jika klien dapat membaca ucapan :
1. Lihat langsung pada klien dan bicaralah lambat dan jelas.
2. Hindari berdiri di depan cahaya karena dapat menyebabkan klien tidak dapat membaca bibi anda.
Perkecil distraksi yang dapat menghambat konsentrasi klien.
Minimalkan percakapan jika klien kelelahan atau gunakan komunikasi tertulis.
Tegaskan komunikasi penting dengan menuliskannya.
Lanjutan..
Jika ia hanya mampu bahasa isyarat, sediakan penerjemah. Alamatkan semua komunikasi pada klien, tidak kepada penerjemah. Jadi seolah-olah perawat sendiri yang langsung berbicara kepada klien dnegan mengabaikan keberadaan penerjemah.
Lanjutan..
Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman.
Bicara dengan jelas, menghadap individu.
Ulangi jika klien tidak memahami seluruh isi pembicaraan.
Gunakan rabaan dan isyarat untuk meningkatkan komunikasi.
Validasi pemahaman individu dengan mengajukan pertanyaan yang memerlukan jawaban lebih dari ya dan tidak.
Dx. 2
Tujuan : Persepsi / sensoris baik.
Kriteria hasil.
Klien akan mengalami peningkatan persepsi/sensoris pendengaran samapi pada tingkat fungsional
Intervensi Keperawatan
Ajarkan klien untuk menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat.
Instruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang aman sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh.
Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut.
Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik yang diresepkan (baik itu antibiotik sistemik maupun lokal).
Diagnosa Keperawatan Post Operasi
Ansietas b/d prosedur pembedahan
Nyeri akut b/d pembedahan mastoid
Resiko terhadap infeksi b/d mastoidektomi, trauma bedah thd jaringan
Perubahan persepsi sensori auditoris b/d pembedahan telinga
Intervensi Keperawatan
Meredakan ansietas:
Meredakan nyeri
Memperbaiki komunikasi
Mencegah cidera
Mencegah gangguan Persepsi sensori
Meredakan ansietas
Memberikan informasi lokasi insisi, hasil pembedahan yg diharapkan (pendengaran, keseimbangan, gerakan fasial)
Dorong pasien untuk mendiskusikan setiap ansietas dan keprihatinan mengenai pembedahan
Peredaan Nyeri
Pasien diajarkan cara penggunaan tehnik mengatasi nyeri
Pasang tampon kanalis auditorius untum menstabilkan membran tympani
Kolaborasi pemberian analgetik
Memperbaiki komunikasi
Kurangi kegaduhan lingkungan
Pandang pasien ketika berbicara
Berbicara dengan tegas dan jelas tanpa berteriak
Memberikan pencsahayaan yg memadai bila pasien membasa gerak bibir
Gunakan tanda non verbal saat berbicara(ekspresi wajah, menunjuk,sikap tubuh)
Mencegah cidera
Upayakan keamanan : ambulasi terbimbing
Pantau mengenai efek obat antiemetik dan anti vertigo
Ari sandi
Mencegah gangguan persepsi sensori
Instruksikan pasien untuk segera melaporkan bila ada tanda kelemahan nervus fasialis seperti mulut monyong atau wajah kearah sisi yg dioperasi
Ganggua saraf korda tympani : gangguan pengecapan, mulut kering pd sisi yg diopersi selama beberapa bulan.
Evaluasi
Ansietas thd pembedahan berkurang
Mengungkapkan dan memperlihatkan pengurangan stres, ketegangan dan peka rangsang
Memberitahu pada perawat bahwa ia dpt menerima hasil pembedahan dan menyesuaikan kemungkinan gangguan pendengaran
2. Bebas dari rasa tak nyaman atau nyeri
Tdk memperlihatkan tanda mengernyitkan wajah, mengeluh atau menangis
Meminum analgetik bila diperlukan
Lanjutan..
3. Pendengaran stabil atau membaik
4. Menunjukkan tidak adanya cidera atau trauma akibat vertigo
5. Tidak mengalami, atau telah menyesuaikan terhadap perubahan persepsi sensori

Askep Anak Marasmus


Askep Anak Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. (Dorland, 1998:649).
* Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196).
* Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori. (Nelson, 1999:212).
* Zat gizi adalah zat yang diperoleh dari makanan dan digunakan oleh tubuh untuk pertumbuhan, pertahanan dan atau perbaikan. Zat gizi dikelompokkan menjadi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. (Arisman, 2004:157).
* Energi yang diperoleh oleh tubuh bukan hanya diperoleh dari proses katabolisme zat gizi yang tersimpan dalam tubuh, tetapi juga berasal dari energi yang terkandung dalam makanan yang kita konsumsi.
* Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi, disamping membantu pengaturan metabolisme protein. Protein dalam darah mempunyai peranan fisiologis yang penting bagi tubuh untuk :
1. Mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmose dari plasma protein.
2. Sebagai cadangan protein tubuh.
3. Mengontrol perdarahan (terutama dari fibrinogen).
4. Sebagai transport yang penting untuk zat-zat gizi tertentu.
5. Sebagai antibodi dari berbagai penyakit terutama dari gamma globulin.
Dalam darah ada 3 fraksi protein, yaitu : Albumin, globulin, fibrinogen.
ETIOLOGI

Askep Anak Marasmus

* Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi kongenital. (Nelson,1999).
* Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat. (Dr. Solihin, 1990:116).
PATOFISIOLOGI
Askep Anak Marasmus
Askep Anak Marasmus
Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. (Nuuhchsan Lubis an Arlina Mursada, 2002:11).

Askep Anak Marasmus

MANIFESTASI KLINIK
Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama beberaba waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, mula-mula bayi mungkin rewe, tetapi kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Bayi biasanya konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mukus dan sedikit Askep Anak Marasmus. (Nelson,1999).
Selain itu manifestasi marasmus adalah sebagai berikut :
1. Badan kurus kering tampak seperti orangtua
2. Lethargi
3. Irritable
4. Kulit keriput (turgor kulit jelek)
5. Ubun-ubun cekung pada bayi
6. Jaingan subkutan hilang
7. Malaise
8. Kelaparan
9. Apatis
PENATALAKSANAAN
1. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin.
2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit.
3. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat.
4. Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil laboratorium, timbang berat badan, kaji tanda-tanda vital.
Penanganan KKP berat
Secara garis besar, penanganan KKP berat dikelompokkan menjadi pengobatan awal dan rehabilitasi. Pengobatan awal ditujukan untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa, sementara fase rehabilitasi diarahkan untuk memulihkan keadaan gizi.
Upaya pengobatan, meliputi :
* Pengobatan/pencegahan terhadap hipoglikemi, hipotermi, dehidrasi.
* Pencegahan jika ada ancamanperkembangan renjatan septik
* Pengobatan infeksi
* Pemberian makanan
* Pengidentifikasian dan pengobatan masalah lain, seperti kekurangan vitamin, anemia berat dan payah jantung.
Menurut Arisman, 2004:105
* Komposisi ppemberian CRO (Cairan Rehidrasi Oral) sebanyak 70-100 cc/kg BB biasanya cukup untuk mengoreksi dehidrasi.
* Cara pemberian dimulai sebanyak 5 cc/kg BB setiap 30 menit selama 2 jam pertama peroral atau NGT kemudian tingkatkan menjadi 5-10 cc/kg BB/ jam.
* Cairan sebanyak itu harus habis dalam 12 jam.
* Pemberian ASI sebaiknya tidak dihentikan ketika pemberian CRO/intravena diberikan dalam kegiatan rehidrasi.
* Berika makanan cair yang mengandung 75-100 kkal/cc, masing-masing disebut sebagai F-75 dan F-100.
Menurut Nuchsan Lubis
Penatalaksanaan penderita marasmus yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap, yaitu :
1. Tahap awal :24-48 jam pertama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamatkan jiwa, antara lain mengoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan IV.
* cairan yang diberikan adalah larutan Darrow-Glukosa atau Ringer Laktat Dextrose 5%.
* Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama.
* Kemudian 140ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.
* Cairan diberikan 200ml/kg BB/ hari.
2. Tahap penyesuaian terhadap pemberian makanan
* Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan sebanyak 30-60 kalori/ kg BB/ hari atau rata-rata 50 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 1-1,5 gr/ kg BB/ hari.
* Kemudian dinaikkan bertahap 1-2 hari hingga mencapai 150-175 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 3-5 gr/ kg BB/ hari.
* Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet TKTP ini lebih kurang 7-10 hari.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan Fisik
* Mengukur TB dan BB
* Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan TB (dalam meter)
* Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dangan menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.
* Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa, massa tubuh yang tidak berlemak).
2. Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit, Hb, Ht, transferin.
FOKUS INTERVENSI
1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan tidak adekuat (nafsu makan berkurang). (Wong, 2004)
Tujuan :
Pasien mendapat nutrisi yang adekuat
Kriteria hasil :
meningkatkan masukan oral.
Intervensi :
a. Dapatkan riwayat diet
b. Dorong orangtua atau anggota keluarga lain untuk menyuapi anak atau ada disaat makan
c. Minta anak makan dimeja dalam kelompok dan buat waktu makan menjadi menyenangkan
d. Gunakan alat makan yang dikenalnya
e. Perawat harus ada saat makan untuk memberikan bantuan, mencegah gangguan dan memuji anak untuk makan mereka
f. Sajikan makansedikit tapi sering
g. Sajikan porsi kecil makanan dan berikan setiap porsi secara terpisah
2. Defisit volume cairan berhubungan dengan diare. (Carpenito, 2001:140)
Tujuan :
Tidak terjadi dehidrasi
Kriteria hasil :
Mukosa bibir lembab, tidak terjadi peningkatan suhu, turgor kulit baik.
Intervensi :
a. Monitor tanda-tanda vital dan tanda-tanda dehidrasi
b. Monitor jumlah dan tipe masukan cairan
c. Ukur haluaran urine dengan akurat
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status metabolik. (Doengoes, 2000).
Tujuan :
Tidak terjadi gangguan integritas kulit
Kriteria hasil :
kulit tidak kering, tidak bersisik, elastisitas normal
Intervesi :
a. Monitor kemerahan, pucat,ekskoriasi
b. Dorong mandi 2xsehari dan gunakan lotion setelah mandi
c. Massage kulit Kriteria hasilususnya diatas penonjolan tulang
d. Alih baring
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh
Tujuan :
Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
Kriteria hasil:
suhu tubuh normal 36,6 C-37,7 C,lekosit dalam batas normal
Intervensi :
a. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
b. Pastikan semua alat yang kontak dengan pasien bersih/steril
c. Instruksikan pekerja perawatan kesehatan dan keluarga dalam prosedur kontrol infeksi
d. Beri antibiotik sesuai program
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang nya informasi (Doengoes, 2004)
Tujuan :
pengetahuan pasien dan keluarga bertambah
Kriteria hasil:
Menyatakan kesadaran dan perubahan pola hidup,mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala.
Intervensi :
a. Tentukan tingkat pengetahuan orangtua pasien
b. Mengkaji kebutuhan diet dan jawab pertanyaan sesuai indikasi
c. Dorong konsumsi makanan tinggi serat dan masukan cairan adekuat
d. Berikan informasi tertulis untuk orangtua pasien
6. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan melemahnyakemampuan fisik dan ketergantungan sekunder akibat masukan kalori atau nutrisi yang tidak adekuat. (Carpenito, 2001:157).
Tujuan :
Anak mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya.
Kriteria hasil :
Terjadi peningkatan dalam perilaku personal, sosial, bahasa, kognitif atau aktifitas motorik sesuai dengan usianya.
Intervensi :
a. Ajarkan pada orangtua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok usia.
b. Kaji tingkat perkembangan anak dengan Denver II
c. Berikan kesempatan bagi anak yang sakit memenuhi tugas perkembangan
d. Berikan mainan sesuai usia anak.
7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen sekunder akibat malnutrisi. (Carpenito, 2001:3)
Tujuan :
Anak mampu beraktifitas sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria hasil :
Menunjukkan kembali kemampuan melakukan aktifitas.
Intervensi :
a. Berikan permainan dan aktifitas sesuai dengan usia
b. Bantu semua kebutuhan anak dengan melibatkan keluarga pasien
8. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan rendahnya masukan protein (malnutrisi). (Carpenio, 2001:143).
Tujuan :
Kelebihan volume cairan tidak terjadi.
Kriteria hasil :
Menyebutkan faktor-faktor penyebab dan metode-metode pencegahan edema, memperlihatkan penurunan edema perifer dan sacral.
Intervensi :
a. Pantau kulit terhadap tanda luka tekan
b. Ubah posisi sedikitnya 2 jam
c. Kaji masukan diet dan kebiasaan yang dapat menunjang retensi cairan.

Askep Urethritis


Askep Urethritis

Askep Urethritis
Askep Urethritis
. Urethritis juga merupakan salah satu sindroma dari penyakit menular seks (PMS),urethritis secara spesifik dapat terbagi 2 yaitu gonococal urethritis dan nongonococal urethritis
Urethritis merupakan peradangan pada saluran kencing atau urethra, yang terjadi pada lapisan kulit urethra, disebabkan oleh bakteri-bakteri yang menyerang saluran kemih seperti Chlamydia trachomatis, neisseria gonorrhoae, tricomonal vaginalis dan lain-lain. peradangan ini biasanya terjadi pada ujung urethra atau urethra bagian posterior, urethritis juga merupakan salah satu dari infeksi dari saluran kemih yaitu urethra, prostate, vas deferens, testis atau ovarium, buli-buli, ureter sampai ginjal. Dan dapat dikatakan sebagai bagian dari infeksi saluran kemih superficial atau mukosa yang tidak menandakan invasi pada jaringan.
Secara mikrobiologis dapat dikatakan terjadinya askep urethritis jika ditemukan pertumbuhan mikroorganisme yang berlebihan di dalam sample urine dan disuria. Inflamasi urethra dapat menyerang pasien dari berbagai usia dari mulai bayi yang baru lahir hingga orang tua. Tetapi pada umumnya yang lebih sering terkena urethritis adalah wanita, hal ini terjadi karena urethra wanita lebih pendek dari urethra pria, tetapi pada masa neonatus penyakit ini lebih sering terjadi pada bayi laki-laki. Penegakan diagnosis etiology dapat dilakukan dengan adanya petunjuk data dari epidemiologi,manifestasi klinik,pemeriksaan fisik maupun penunjang serta berbagai petunjuk yang membantu diagnosis penyakit ini.
Pada daerah saluran kemih telah didiami oleh spesies-spesies normal dan dapat hilang pada saat pengenceran dan pembilasan pada saat buang air kecil serta dapat hilang dengan adanya antibody kandung kemih. Tetapi keadaan ini kadang tidak terjadi dan menyebabkan peradangan pada urethra yang disebabkan oleh mikroorganisme tersebut.

ETIOLOGY

Pada orang dewasa khususnya wanita muda dan aktif dapat ditularkan organisme penyebab urethritis melalui hubungan seksual seperti Chlamydia trachomatis, neisseria gonorrhoaeae, dan virus herpes simpleks merupakan kuman-kuman penyebab utama urethritis. Pada wanita dapat juga terjadi karena perubahan pH dan flora vulva dalam siklus menstruasi. Ada juga organisme lain seperti ureaplasma urealyticum, mycoplasma hominis, tricomonal vaginalis, neisseria meningitides, dan androvirus yang juga merupakan organisme penyebab peradangan urethra. Tidak hanya pada perempuan tapi pada laki-laki dan anak bayi dan remaja bias terjangkit oleh kuman-kuman ini.
Urethritis dapat dibagi menjadi dua berdasarkan kuman yang menginfeksinya, gonokokal urethritis dan nongonokokal askep urethritis.
Gonokokal uretritis disebabkan karena terinfeksi neisseria gonorrhoeae, sedangkan nongonokokal urethritis disebabkan oleh chlamidia trichomatis,ureaplasma urealithicum, mycoplasma genitalis, trichomonasvaginalis.
Urethritis dapat digabungkan dalam sindrom-sindrom infeksi seperti epididimis, orchitis, prostatis, proctitis, sindrom reiter, iritis, pneumonia, otitis medis, dan lain-lain.
Ada juga penginfeksi yang menyebabkan terjadinya uretritis tapi jarang, seperti herpes genitalis, sipilis, mycobakteria, typical bakteri, viral streptokokus, anaerobes, meningokokus.
Secara fisiologi urethitis ini dapat mengganggu aktivitas yang seharusnya terjadi di saluran kemih, banyak dari kuman penyebab urethritis yang ada karena pemasangan kateter pada laki-laki yang sudah usia lanjut.

Askep Urethritis

PATOGENESIS dan SUMBER INFEKSI

Urethra harus dilihat sebagai salah satu unit dari saluran kemih yang berfungsi pada proses ekskresi, dan urethra merupakan tempat pertama yang dicapai oleh bakteri sebelum mencapai unit saluran kemih yang lain. Oleh karena urethra yang paling mudah dicapai bakteri maka urethra yang paling sering terkena infeksi dan menyebabkan peradangan, urethra pada bagian distal sebenernya telah didiami oleh spesies-spesies difteroid, streptokokus, stafilokokus, tapi tidak sering dijumpai bakteri gram negatif yang biasanya menyebabkan infeksi pada saluran kemih. Sebenernya dalam keadaan normal bakteri-bakteri ini dapat hilang dengan adanya antibody dan akibat adanya pengenceran dan pembilasan dari buang air kecil. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi patogenesis penyakit urethritis diantaranya:
1. Jenis kelamin
Jenis kelamin merupakan factor yang cukup mempengaruhi patogenesis dari urethritis, wanita cenderung terkena urethritis karena urethranya lebih pendek dari laki-laki dan uretranya cenderung didiami oleh basil gram negative.
2. Faktor genetik
Banyak bukti yang mendukung bahwa faktor genetik mempengaruhi kerentanan terhadap bakteri-bakteri penyebab urethritis, golongan darah yang diturunkan dari factor keturunan itu juga mempengaruhi tingkat kerentanan tubuh.
3. Faktor aktivitas seksual
Faktor aktivitas seksual ini merupakan factor yang paling dominan dari factor yang mempengaruhi terjadinya urethritis, wanita yang memiliki uretra lebih pendek dari laki-laki akibat dari perilaku seks bebas dapat menyebabkan terinfeksinya uretra, dan pada laki-laki yang perilaku seksualnya tidak normal seperti homoseksual bisa berjangkit penyakit-penyakit pada saluran kemih seperti urethritis, aktivitas seksual ini juga dapat mengakibatkan banyak penyakit-penyakit yang disebabkan karena aktivitas seksual yang terlalu bebas dan tidak steril.

PENYEBAB

*Gonokokal Urethritis
* GU 80% dari kasus disebabkan oleh neisseria gonorrhoeae, yaitu sebuah gram negative intraseluler diplokokus.
* Pasien dengan GU memiliki perbandingan masa inkubasi lebih lama dari pada NGU, dan permulaan diuria dan discharge nanah dapat terjadi tiba-tiba.
*Nongonokokal Urethritis
* Pasien dengan NGU 50% dari kasus memiliki perbandingan masa inkubasi yang lebih lama dari pada GU.
*NGU disebabkan oleh c. trachomatis 15-55% kasus, u.urealyticum 40-60% kasus, m. hominis 5-10% kasus dan T. vaginalis <5% kasus dan masih ada bakteri yang tidak dapat diidentifikasi.
* NGU yang disebabkan karena pemasangan kateter, terjadi 2-20% dari kasus, dan 10 kali lebih sering terjadi pada pemasangan kateter latek dari pada kateter silikon.

Askep Urethritis

FREKUENSI

Dalam beberapa waktu yang lalu gonokokal uretritis telah sangat menurun di Negara-negara industri, di Amerika uretritis terjadi pada 4 juta orang amerika setiap tahunnya, insidens gonokokal uretritis diperkirakan lebih dari 700 ribu kasus baru setiap tahun. Sedangkan insidens dari non gonokokal uretritis diperkirakan 3 juta kasus setiap tahunnya, insidens dari gonokokal uretritis menurun sejak tahun 2000, dan kasus nongonokokal uretritis meningkat ini menunjukkan bahwa usaha pengendalian nongonokokal uretritis relative tidak efektif. Insidens NGU lebih tinggi pada bulan bulan musim panas dibandingkan bulan-bulan lainnya setiap tahun.
Di dunia diperkirakan 62 juta kasus baru dari GU dan 89 juta kasus baru dari NGU dilaporkan setiap tahun.
RAS
Tidak ada ras didunia yang istimewa shingga tidak dapat terjangkit urethritis, bagaimanapun orang-orang dengan kelas social ekonominya rendah tidak wajar dan lebih sering dari pada orang-orang yang memiliki kelas social ekonomi yang lebih tinggi.

JENIS KELAMIN

Uretritis sama-sama terjadi pada wanita dan pria, biarpun data yang disajikan lebih cenderung terserang pada wanita, lebih dari 75% dari wanita terjangkit penyakit lain seperti sistitis, vagisitis, atau cervisis. Urethritis juga biasa tejadi pada laki-laki homoseksual, laki-laki heteroseksual,wanita hetero seksual, dan wanita homoseksual.

USIA

Uretritis dapat terjadi pada berbagai usia aktif, baik dari bayi sampai orang tua, tetapi insidens paling tinggi terjadi pada umur 20 – 24 tahun. Karena pada masa ini sering terjadinya hubungan seksual bebas dan tidak sehat.

MANIFESTASI KLINIS

Tanda dan gejala klinis tidak dapat dipercayai dalam mendiagnritisosa terjadinya urethritis masih harus diadakan pemeriksaan-pemeriksaan fisik dan penunjang yang dapat memperkuat diagnosa. Kira-kira 30% perempuan dengan disuria akut, frekuensi, dan piuria memberikan hasil kultur urin porsi tengah yang menunjukkan tidak adanya pertumbuhan bakteri atau pertumbuhan yang tidak bermakna.
Secara klinis, perempuan ini tidak dapat dibedakan dari perempuan yang menderita sistitis. Dan pada kelompok perempuan ini harus dibedakan antara yang terinfeksi kuman pathogen yang ditularkan secara seksual seperti Chlamydia trachomatis, neisseria gonorrhoeae, atau virus herpes simpleks, dan mereka dengan dengan jumlah E. coli rendah atau dengan infeksi stafilokokus pada uretra, wanita dengan penyakit yang bertahap tanpa hematuria, tanpa nyeri suprapubik, dan riwayat gejala penyakit lebih dari 7 hari harus dicurigai menderita infeksi gonokokus.
Riwayat tambahan adanya penggatian mitra seksual yang baru, terutama sekali apabila mitra tersebut baru saja mengalami urethritis akibat clamidial atau gonokokus, harus meningkatkan kecurigaan terhadap penyakit yang dapat ditularkan secara seksual, seperti jika ditemukan servisitis mukopurulen. Hematuria yang jelas, nyeri suprapubik, awikan penyakit mendadak, lama penyakit lebih dari 3 hari dan adanya riwayat infeksi saluran kemih mendukung adanya infeksi adanya riwayat infeksi oleh E. coli atau stafilokokus.
Uretritis yang didapat secara seksual pada perempuan sering kali bermanifestasi sebagai sindroma uretra akut yang ditandai dengan disuria.

SEJARAH SEKSUAL: beberapa aktifitas seksual dapat meningkat dan menurunkan kemungkinan terjangkitnya uretritis dan penyakit menular seks, misalnya pada:

  • Penggunaan alat kontrasepsi
  • Pergaulan terlalu muda, berkaitan dengan perilaku seksual
  • Banyaknya pasangan yang berganti-ganti
  • hubungan seksual yan disukai, berkaitan dengan perilaku suka dengan sejenis
  • Penyakit menular seks yang terdahulu

GEJALA: Banyak pasien termasuk 25% dari pengidap NGU tidak menunjukkan gejala dan menunjukkan pemeriksaan pada pasangannya, dan 75% dari wanita yang terinfeksi Chlamydia trachomatis tidak menunjukkan gejala yang berarti.

  • Timing :biasanya terjadi pada 4 hari sampai 2 minggu setelah terinfeksi oleh kuman
  • Urethral discharge : pengeluaran cairan dengan warna kuning, hijau, cokelat atau pengeluaran yang berhubungan dengan aktivitas seksual.
  • Disuria : biasanya terjadi parus diada penis bagian distal
  • Itching atau gatal-gatal yang terjadi di sekitar urethra
  • Nyeri pada saat terjadi urethritis

GEJALA SYSTEMIC

Gejala ini meliputi demam, menggigil, berkeringat, pusing kepala, dan berbagai
rasa nyeri pada bagian urethra.

DIAGNOSIS

Gambaran klinis pada uretritis sangat bervariasi dari mulai yang menunjukkan gejala yang sangat berat sampai yang tidak menunjukkan gejala sama sekali oleh karena itu harus diadakannya pemeriksaan- pemeriksaan penunjang untuk memperkuat diagnosa. Seperti pemeriksaan-pemeriksaan Lab, pemeriksaan urin, dan pemeriksaan lain.

PEMERIKSAAN

STUDI LAB:
  • Uretritis dapat didiagnosa dengan bantuan pemeriksaan pada studi lab:
* Pemeriksaan adanya pengeluaran nanah yang berlebiha,
* Melihat dengan mikroskop meningkat atau tidaknya jumlah sel darah putih
  • Pengujian adanya N. gonorrhoeae dan C.trachomatis
  • Bentuk gram
  • Pemeriksaan urine
  • Percobaan amplifikasi pada asam nukleat
STUDI IMAGE
PROSEDUR
  • Kateterisasi
  • Chystoscopy

TERAPI

Pada infeksi saluran kemih yang tidak memberikan gejala klinis seperti urethritis tidak perlu pemberian terapi, tetapi jika uretritis yang telah menunjukkan gejala klinis harus segera mendapatkan antibiotic.
Perawatan medik : Gejala spontan pencairan yang berlebihan pada penderita urethritis, tidak perduli dengan terapi, antibiotic berguna untuk : mencegah keparahan dan mengurangi penularan ke orang lain.
Terapi antibiotik untuk GU dan NGU, jika terapi pada penderita NGU tidak diberikan pada maka akan meningkatkan 50% penderita GU.
Pemilihan antibiotic untuk terapi GU dan NGU perlu mempertimbangkan:
• Biaya
• Efek yang ditimbulkan
• Kefektifan
• Dan komplikasi yang ditimbulkan

PENGOBATAN

Pemberian obat pada urethritis merupakn salah satu pengobatan yang dilakukan untuk mencegah penularan terhadap orang lain dan menghambat bakteri-bakteri yan g akan menginfeksi uretra. Pemberian antibiotik pada pasien dengan bentuk gram atau hasil kultur dan untuk semua pasangan-pasangan seksual dari pasien, tidak memperdulikan gejala. Terapi pada pasien yang terinfeksi bakteri gram negative dan sebuah latar belakang yang cocok dengan urethritis yang tidak mungkin mengembalikan sampai sembuh atau mungkin untuk melanjutkan penularan infeksi. Kelompok selanjutnya bisa lebih baik penanganannya dengan single dosis.
Antimikrobial untuk mengatasi urethritis sebagai berikut :
  • Parenteral ceftriaxone
  • Oral azithromycin
  • Oral ciprofloxacin
  • Oral cefixme
  • Oral doxixycline
  • Oral parenteral spectinomycin
  • Oral ofloxacin
  • Oral cefixima
  • Oral ciprofloxacin
Antibiotik seperti penicilin, amoxilin, dan ampicilin tidak dapay digunakan karena tidak memiliki daya tahan yang menjadi standar.
PERAWATAN LEBIH LANJUT
  • Memperoleh follow-up jika penyakit tersebut terulang kembali.
  • Memberikan semangat atau tekanan moril pada pasien.
  • Mengadakan pemeriksaan ulang jika dikhawatirkan akan terjadi infeksi kembali.
!!!!!PENCEGAHAN TERJADINYA PERULANGAN PENYAKIT
  • Mengajarkan pada pasien tentang mencegahnya terulangnya kembali, dan memberitahukan pada pasien apa yang harus dilakukan.
  • Mengajarkan pada pasien tentang bahayanya penyakit menular seks beserta akibatnya sehingga dapat lebih menjaga perilaku seksual
  • Bandingkan antara pesien urethritis yang tidak mengalami gejala dan yang mengalami gejala, kemudian segera bedakan dengan pemberian terapi.
  • Segera diagnosis penyakit jika sudah mulai ada gejala yang berarti, jangan sampai terlambat pada mantan pasien.
  • evaluasi dan periksa pasangan dari orang yang pernah terinfeksi.

KOMPLIKASI
Jika terjadi komplikasi maka akan terjadi hal-hal berikut:
  • Striktur urethra
  • Stenosis
  • Formasi abses
  • Dan yang jarang dapat menyebabkan epididimis, prostatis

PROGNOSIS
Semua pasien tanpa urethritis yang kompleks secara spontan harus dikembalikan ke keadaan sebelumnya dengan atau tanpa terapi. Pada penderita urethritis biasanya pengobatan yang diberikan hasil hilangnya gejala lengkap dan tidak terulang kembali.
PENCEGAHAN
Pencegahan dari urethritis ini dapat dilakukan dengan melakukan pendidikan pada pasien tentang pergaulan dan perilaku seks yang sehat diantaranya:
  • Mengajarkan pada pasien factor-faktor resiko yang dapat terjadi dari sindroma pms
  • Menjaga pergaulan, dengan orang-orang yang berhubungan dengan multiple seks
  • Menghindari pergaulan bebas
  • Menghindari penyalahgunaan obat
  • Menghindari freeseks
  • Menggunakan kondom pada semua pasangan dan pada semua waktu melakukan hubungan seksual
  • Masyarakat dianjurkan untuk mempelajari masalah-masalah penyakit yang berkaitan dengan saluran kemih, dan kesehatan tubuh.
  • Menjaga kebersihan alat kelamin.

DAFTAR PUSTAKA

(http://emedicine.com/EMERG/topic2342.htm)
(Masjoer,arief dkk,.capita selekta kedokteran adisi ke-3 (1999) hal 523,Jakarta)
(Purnomo,Basuki B,Dasar-dasar urologi, edisike-2 (2003) hal 35-39, Malang)
(Harrison textbook,vol.2,”Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam” hal 616-620,(1995)

Askep Hipertensi


Asuhan keperawatan pada penderita hipertensi ( askep hipertensi ) merupakan panduan sederhana yang dapat digunakan oleh perawat atau paramedis dalam mengambil tindakan terhadap kondisi pasien.
A. Pendahuluan
Hipertensi merupakan penyakit yang makin banyak dijumpai di Indonesia, terutama di kota besar. Di negara industri, hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama. Di Indonesia hipertensi juga merupakan masalah kesehatan yang sangat perlu diperhatikan oleh dokter, perawat, serta tim kesehatan lainnya yang berkeja pada pelayanan kesehatan primer, karena angka prevalensinya yang tinggi akibat jangka panjang yang ditimbulkannya.
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer meliputi lebih kurang 90% dari seluruh pasien hipertensi dan 10% lainnya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Hanya 50% dari golongan hipertensi sekunder dapat diketahui penyebabnya dan dari golongan ini hanya beberapa persen yang dapat diperbaiki kelainannya. Oleh karena itu upaya penanggulangan hipertensi terhadap hipertensi primer baik mengenai patogenesis maupun tentang pengobatannya.
Hipertensi tidak boleh dianggap penyakit yang ringan karena jika terlambat memberikan pertolongan penyakit ini akan merenggut nyawa penderita. (Prof. Tjokronegoro, Arjatma, 2001)
B. Pembahasan
1. Pengertian
Hipertensi adalah peningkatan tekanan pada systole, yang tingginya tergantung umur individu yang terkena. Tekanan darah berfluktuasi dalam batas – batas tertentu, tergantung pada posisi tubuh, umur dan tingkat stress. Hipertensi juga dapat digolongkan sebagai ringan, sedang atau berat, berdasarkan diastole. Hipertensi ringan apabila tekanan diastole 95 – 104 mmHg, hipertensi sedang apabila tekanan diastole 105 – 114 mmHg, hipertensi berat apabila tekanan diastole > 115 mmHg.
Menurut WHO (1978) batas tekanan darah yang masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg dan tekanan darah sama dengan atau di atas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Hipertensi adalah peningkatan tekana darah di atas normal yaitu bila tekanan sistolik (atas) 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolic (bawah) 90 mmHg atau lebih.
2. Patofisiologi
Meningkatnya tekanan darah di dalam saluran arteri bisa terjadi melalui beberapa cara, yaitu : jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya, arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut, karena-nya darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh darah yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yan terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis.
Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi vasokonstriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.
Bertambahnya cairan dalam sirkuilasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah, hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh, volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanand arah juga meningkat, sebaliknya jia : aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami pelebaran, banyak cairan keluar dari sirkulasi, maka tekanan darah akan menurun.
Penyesuaian terhadap faktor – faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari system saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis).
Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara : jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali normal. Jika tekanan darah menururn, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali normal. Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut rennin, yang memicu pembentukan hormone angiotensin, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron. Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah, karena iti berbagai penyakit dan kelainan pada ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi.
Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi. Perdangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.
Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari system saraf otonom, yang untuk sementara waktu akan : meningkatkan tekanan darah selama respon fight – or – flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar). Meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung; jugta mempersempit sebagian besar arteriola, tetapi memperlebar arteteriola di daerah tertentu (misalnya otot rangka, yang memerlukan pasokan darah yang lebih banyak). Mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga akan meningkatkan volume darah dalam tubuh. Melepaskan hormone epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin), yang merangsang jantung dan pembuluh darah.
3. Etiologi
a. Usia
Hipertensi akan makin meningkat dengan meningkatnya usia hipertensi pada yang berusia dari 35 tahun dengan jelas menaikkan insiden panykit arteri dan kematian premature.
b. Jenis Kelamin
berdasar jenis kelamin pria umumnya terjadi insiden yang lebih tinggi daripada wanita. Namun pada usia pertengahan, insiden pada wanita mulai meningkat, sehingga pada usia di atas 65 tahun, insiden pada wanita lebih tinggi.
c. Ras
Hipertensi pada yang berkulit hitam paling sedikit dua kalinya pada yang berkulit putih.
d. Pola Hidup
Faktor seperti halnya pendidikan, penghasilan dan faktor pola hidup pasien telah diteliti, tanpa hasil yang jelas. Penghasilan rendah, tingkat pendidikan rendah dan kehidupan atau pekerjaan yang penuh stress agaknya berhubungan dengan insiden hipertensi yang lebih tinggi. Obesitas juga dipandang sebagai faktor resiko utama. Merokok dipandang sebagai faktor resiko tinggi bagi hipertensi dan penyakit arteri koroner. Hiperkolesterolemia dan hiperglikemia adalah faktor – faktor utama untuk perkembangan arterosklerosis yang berhubungan dengan hipertensi.
4. Berdasarkan penyebab, hipertensi di bagi dalam 2 golongan :
a. Hipertensi primer / essensial
Merupakan hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui, biasanya berhubungan dengan faktor keturunan dan lingkungan
b. Hipertensi sekunder
Merupakan hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui secara pasti, seperti gangguan pembuluh darah dan penyakit ginjal.
5. Faktor pencetus
a. Obesitas
b. Kebiasaan merokok
c. Minuman beralkohol
d. Penyakit kencing manis dan jantung
e. Wanita yang tidak menstruasi
f. Stress dan kurang olah raga
g. Diet yang tidak seimbang, makanan berlemak dan tinggi kolesterol
6. Tanda dan Gejala
a. Sakit kepala dan pusing
b. Nyeri kepala berputar
c. Rasa berat di tengkuk
d. Marah / emosi tidak stabil
e. Mata berkunang – kunang
f. Telinga berdengung
g. Sukar tidur h. Kesemutan
i. Kesulitan bicara
j. Rasa mual / muntah
k. Epistaksis
l. Migren
m. Mudah lelah
n. Tinistus yang diduga berhubungan dengan naiknya tekanan darah
7. Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi hipertensi berdasarkan The Joint National Commite on Detection Evaluation and Treatmen of High Blood Pressure, adalah sebagai berikut :
Kategori Sistolik Diastolik
a. Normal tinggi (perbatasan) 130 – 139 85 – 89
b. Stadium 1, ringan 140 – 159 90 – 99
c. Stadium 2, sedang 160 – 179 100 – 109
d. Stadium 3, berat 180 – 209 110 – 119
e. Stadium 4, sangat berat 210 > 120 >
8. Komplikasi
a. Stroke
b. Infakr miokard
c. Gagal ginjal
d. Ensefalopati
e. Gangguan penglihatan
9. Penatalaksanaan Medik
a. Penatalaksanaan farmakologis / perubahan gaya hidup pengurangan asupan garam dan upaya penurunan berat badan, menghindari faktor resiko seperti merokok, minum alcohol, hiperlipidemia dan stress.
b. Penatalaksanaan dengan obat berlandaskan beberapa prinsip
  • Pengobatan hipertensi sekunder lebih mengutamakan pengobatan kasual.
  • Pengobatan hipertensi primer ditujukan untuk menurunkan tekanan darah dengan hartapan memperpanjang umur dan mengurangi komplikasi.
  • Upaya menurunkan tekana darah dicapai denga menggunakan obat anti hipertensi selain dengan perubahan gaya hidup.
  • Pengobatan hipertensi primer adalah pengobatan jangka panjang dengan kemungkinan besar untuk seumur hidup.
  • Pengobatan penggunaan obat golongan diuretic, penyekat beta antagonis kalsium, dan penghambat enzim koversi angiotensin (penghambat ACE) merupakan anti hipertensi yang sering digunakan.
10. Penanganan, Perawatan dan Pencegahan Hipertensi
a. Berobat / memeriksakan diri secara teratur
b. Minum obat secara teratur
c. Jangan menghentikan, mengubah dan menambah dosis dan jenis obat tanpa petunjuk dokter
d. Konsultasikan dengan petugas kesehatan jika menggunakan obat untuk penyakit lain karena ada jenis obat yang dapat meningkatkan dan memperburuk hipertensi
e. Usahakan untuk mempertahankan berat badan yang seimbang dengan mencegah kegemukan
f. Batasi pemakaian garam (sodium)
g. Tidak merokok
h. Memperhatikan diet dengan memperbanyak makan buah dan sayuran dan membatasi minuman beralkohol
i. Hindari minum kopi berlebihan
j. Periksa tekanan darah secara teratur terutama jika usia sudah mencapai 40 tahun
C. Asuhan Keperawatan Hipertensi / askep hipertensi
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan iskemia miokard
Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung
Rencana Tindakan :
a) Pantau tekanan darah, ukur pada kedua tangan / paha untuk evaluasi awal
b) Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer
c) Amati warna kulit, kelembaban suhu dan masa pengisian
d) Catat edema umum / tertentu
e) Berikan lingkungan yang tenang, kurangi aktivitas / keributan lingkungan
f) Anjurkan tehnik relaksasi, aktivitas pengalihan
g) Kolaborasi dengan dokter dalam pengobatan
askep hipertensi2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
Tujuan : Intoleransi aktivitas teratasi
Rencana tindakan :
a) Kaji skala aktivitas
b) Perhatikan frekuensi nadi, dispnea, nyeri dada, keletihan dan kelemahan berlebihan diaforesis, pusing atau pingsan.
c) Instruksikan pasien tentang penghematan energi d) Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas / perawatan diri bertahap
e) Berikan bantuan sesuai kebutuhan
3. Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral
Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang
Rencana tindakan :
a) kaji skala nyeri b) Kaji penyebab nyeri, catat penyebab, kualitas, regional dan waktu
c) Observasi tanda – tanda vital terutama tekanan darah
d) Berikan tindakan nonfarmakologik, misalnya : kompres dingin, pijat punggung dan tehnik relaksasi. e) Hilangkan / minimalkan aktivitas vasokokstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala.
f) Bantu pasien dalam aktivitas
g) Kolaborasi dengan dokter dalam mpemberian anagetik
4. Perubahan nutrisi kebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan berlebihan sehubungan dengan kebutuhan metabolic.
Tujuan : Tidak terjadi peningkatan masukan berlebihan Rencana tindakan :
a) Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara hipertensi dengan kegemukan
b) Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam dan gula sesuai indikasi
c) Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan
d) Dorong pasien untuk mempertahankan masukan makanan
e) Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian makanan
5
. Koping individu inefektif berhubungan dengan krisis situasional maturasional
Tujuan : Koping individu kembali efektif
Rencana tindakan :
a) kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku. Misalnya menyatakan perasaan dan perhatian b) catat laporan gangguan tidur, peningkatan, keletihan, kerusakan konsentrasi
c) Bantu pasien untuk mengidentifikasikan stressor spesifik dan cara mengatasinya
d) Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan, beri dorongan partisipasi maksi
mum dalam pengobatan
e) Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu
6. Kurang pengetahuan kebutuhan pembelajaran mengenai kondisi, rencana pengobatan
Tujuan : Pengetahuan meningkat
Rencana Tindakan :
a) Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar
b) Tetapkan dan nyatakan batas tekanan darah normal, jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, ginjal dan otak c) Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor – faktor resiko kardiovaskuler. Misalnya : obesitas, diet lemak, kolesterol, merokok dan minum alkohol
d) Bahas pentingnya menghentikan rokok, dan bantu pasien dalam rencana untuk berhenti merokok
e) Jelaskan tentang obat yang diresepkan, rasional, dosis, efek samping.
D. Kesimpulan Secara umum hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisme, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal. Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak – anak secara normal memiliki
tekanan darah yang jauh lebih rendah dari pada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat akan melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari akan berbeda paling tinggi pada waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari

Kamis, 08 Maret 2012

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)(Ari sandi Universitas Batam)

 
Pengertian

Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir dengan berat badan pada saat kelahiran kurang dari 2500 gr atau lebih rendah (WHO, 1961).

Dalam hal ini dibedakan menjadi :
  1. Prematuritas murni
    Yaitu bayipada kehamilan <>berat badan sesuai.
  2. Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR)
    Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.

Etiologi

Penyebab kelahiran prematur tidak diketahui, tapi ada beberapa faktor yang berhubungan, yaitu :
  1. Faktor ibu
    • Gizi saat hamil yang kurang, umur kurang dari 20 tahun atau diaatas 35 tahun
    • Jarak hamil dan persalinan terlalu dekat, pekerjaan yang terlalu berat
    • Penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah, perokok
  2. Faktor kehamilan
    • Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum
    • Komplikasi kehamilan : preeklamsia/eklamsia, ketuban pecah dini
  3. Faktor janin
    • Cacat bawaan, infeksi dalam rahim
  4. Faktor yang masih belum diketahui

Komplikasi
  • Sindrom aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum, sindrom distres respirasi, penyakit membran hialin
  • Dismatur preterm terutama bila masa gestasinya kurang dari 35 minggu
  • Hiperbilirubinemia, patent ductus arteriosus, perdarahan ventrikel otak
  • Hipotermia, Hipoglikemia, Hipokalsemia, Anemi, gangguan pembekuan darah
  • Infeksi, retrolental fibroplasia, necrotizing enterocolitis (NEC)
  • Bronchopulmonary dysplasia, malformasi konginetal

Penatalaksanaan
  • Resusitasi yang adekuat, pengaturan suhu, terapi oksigen
  • Pengawasan terhadap PDA (Patent Ductus Arteriosus)
  • Keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang cukup
  • Pengelolaan hiperbilirubinemia, penanganan infeksi dengan antibiotik yang tepat.

Diagnosa Keperawatan Yang Muncul
  1. Pola nafas tidak efektif b/d tidak adekuatnya ekspansi paru
  2. Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan
  3. Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
  4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya persediaan zat besi, kalsium, metabolisme yang tinggi dan intake yang kurang adekuat.


Intervensi

Diagnosa Keperawatan 1 :
Pola nafas tidak efektif b/d tidak adekuatnya ekspansi paru

Tujuan :
Pola nafas yang efektif

Kriteria Hasil :
  • Kebutuhan oksigen menurun
  • Nafas spontan, adekuat
  • Tidak sesak.
  • Tidak ada retraksi
Intervensi
  • Berikan posisi kepala sedikit ekstensi
  • Berikan oksigen dengan metode yang sesuai
  • Observasi irama, kedalaman dan frekuensi pernafasan


Diagnosa Keperawatan 2 :
Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan

Tujuan :
Pertukaran gas adekuat

Kriteria :
  • Tidak sianosis.
  • Analisa gas darah normal
  • Saturasi oksigen normal.
Intervensi :
  • Lakukan isap lendir kalau perlu
  • Berikan oksigen dengan metode yang sesuai
  • Observasi warna kulit
  • Ukur saturasi oksigen
  • Observasi tanda-tanda perburukan pernafasan
  • Lapor dokter apabila terdapat tanda-tanda perburukan pernafasan
  • Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah
  • Kolaborasi dalam pemeriksaan surfaktan


Diagnosa Keperawatan 3 :
Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit

Tujuan :
Hidrasi baik

Kriteria:
  • Turgor kulit elastik
  • Tidak ada edema
  • Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jam
  • Elektrolit darah dalam batas normal
Intervensi :
  • Observasi turgor kulit.
  • Catat intake dan output
  • Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena dan elektrolit
  • Kolaborasi dalam pemeriksaan elektrolit darah.


Diagnosa Keperawatan 4 :
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya persediaan zat besi, kalsium, metabolisme yang tinggi dan intake yang kurang adekuat

Tujuan :
Nutrisi adekuat

Kriteria :
  • Berat badan naik 10-30 gram / hari
  • Tidak ada edema
  • Protein dan albumin darah dalam batas normal
Intervensi :
  • Berikan ASI/PASI dengan metode yang tepat
  • Observasi dan catat toleransi minum
  • Timbang berat badan setiap hari
  • Catat intake dan output
  • Kolaborasi dalam pemberian total parenteral nutrition kalau perlu.

diabetes mellitus (Ari Sandi Universitas Batam)


Diabetes Mellitus



Pengertian

Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).

Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).


Klasifikasi

Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :

  1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
  2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)
  3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
  4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)

Etiologi


  1. Diabetes tipe I :
    • Faktor genetik
      Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
    • Faktor-faktor imunologi
      Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
    • Faktor lingkungan
      Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.
  2. Diabetes Tipe II
    Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
    Faktor-faktor resiko :
    • Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
    • Obesitas
    • Riwayat keluarga

Tanda dan Gejala
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
1. Katarak
2. Glaukoma
3. Retinopati
4. Gatal seluruh badan
5. Pruritus Vulvae
6. Infeksi bakteri kulit
7. Infeksi jamur di kulit
8. Dermatopati
9. Neuropati perifer
10.Neuropati viseral
11.Amiotropi
12.Ulkus Neurotropik
13.Penyakit ginjal
14.Penyakit pembuluh darah perifer
15.Penyakit koroner
16.Penyakit pembuluh darah otak
17.Hipertensi

Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut.
Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak.
Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas.


Pemeriksaan Penunjang

  1. Glukosa darah sewaktu
  2. Kadar glukosa darah puasa
  3. Tes toleransi glukosa
    Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl).
Kadar glukosa darah sewaktu
  • Plasma vena :
    • <100>
    • 100 - 200 = belum pasti DM
    • >200 = DM
  • Darah kapiler :
    • <80>
    • 80 - 100 = belum pasti DM
    • > 200 = DM
Kadar glukosa darah puasa
  • Plasma vena :
    • <110>
    • 110 - 120 = belum pasti DM
    • > 120 = DM
  • Darah kapiler :
    • <90>
    • 90 - 110 = belum pasti DM
    • > 110 = DM

Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
  1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
  2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
  3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl).

Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
  1. Diet
  2. Latihan
  3. Pemantauan
  4. Terapi (jika diperlukan)
  5. Pendidikan